SENTIMEN GLOBAL MEMBAYANGI PERGERAKAN MATA UANG INDONESIA

Sentimen global yang lebih mendominasi gerak nilai tukar rupiah dikhawatirkan dapat mengganggu peluang ‎mata uang Garuda untuk kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Dengan begitu, rupiah berpotensi bisa mengalami pelemahan.

Nilai tukar rupiah kembali akan diuji kekuatannya pada Sentimen eksternal kembali menekan posisi mata uang garuda.
Baiknya data konstruksi AS yang diumumkan malam tadi berhasil mendorong penguatan indeks dollar AS hingga 87,70. Imbal hasil US Treasury 10 tahun juga naik cukup tajam 4 basis poin (bps) merespon hal itu. Pagi ini ditunggu data PMI manufacturing China yang diperkirakan sedikit turun. Angka PMI manufacturing AS akan datang malam nanti, diperkirakan naik.
Rupiah sendiri yang sempat menguat setelah pengumuman kenaikan harga BBM bersubsidi, melemah hingga kemarin sore. Rupiah melemah setelah terpengaruh sentimen penguatan dollar AS di Asia yang berhasil mendorong pelemahan pada hampir seluruh mata uang di Asia.

“Meski diharapkan pelemahan dapat terbatas untuk menghindari tren pelemahan lebih dalam, tapi tetap mewaspadai berbagai sentimen yang dapat menahan penguatan rupiah tersebut,” ujar ‎Analis Senior PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada‎, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Rabu 26 Juli 2017.
Dengan adanya proyeksi seperti itu, Reza mengaku, maka rupiah akan bergerak di kisaran support Rp13.330 per USD, sedangkan level resisten berada di Rp13.295 per USD. ‎Menurut Reza, meski dari dalam negeri tidak adanya sentimen negatif, tapi sudah menjadi kebiasaan jelang pertemuan FOMC maka gerak USD terlihat menguat dan imbasnya negatif bagi rupiah.

“Gerak Rupiah yang sebelumnya sempat menguat tipis kembali masuk ke zona merah seiring penguatan USD tersebut. Padahal pergerakan USD terhadap mata uang utama lainnya cenderung di bawah, seiring sikap pelaku pasar global yang tidak hanya memfaktorkan pertemuan FOMC, namun juga perkembangan jalannya pemerintahan AS di bawah Presiden Trump,” jelas Reza.

Meskipun demikian, menurut riset Samuel Sekuritas Indonesia, rupiah melemah paling tipis di antara yang lain. SUN dan IHSG masih menguat hingga kemarin sore walaupun tidak seagresif sehari sebelumnya – terbukti bahwa kenaikan BI rate tidak membangkitkan sentimen pengetatan likuiditas di pasar keuangan.

Baca juga artikel lainnya :

Add Your Comments